Kamis, 15 Oktober 2015

Mengatasi Penipuan (Hipnotis ) melalui Telepon

Ilustrasi
Beberapa waktu belakangan ini banyak laporan yang masuk di meja kerja WTCI mengenai beberapa klien yang merasa telah menjadi korban hipnotis melalui telepon selular. Ditambah lagi pemberitaan beberapa media massa baik cetak maupun online yang menyebutkan “pelaku menghipnotis korbannya”, “lagi-lagi telah terjadi perampasan benda-benda berharga menggunakan gendam, sehingga korban tidak menyadarinya”, “awalnya saya hanya mengobrol saja, namun setelah beberapa saat saya merasa hank / kosong dan tidak sadar telah memberikan seluruh barang berharga saya pada pelaku”, “Saat itu ada seseorang menelepon hp saya, lalu tiba-tiba saya dihipnotis menstransfer uang 20 juta ke rekening pelaku”. Pertanyan selanjutnya, apa benar korban benar-benar tidak sadar saat menyerahkan barang miliknya? Jika korban tidak sadar, mengapa masih sangat jelas menceritakan kronologinya? Lalu atas dasar apa korban tau apabila dirinya dihipnotis?

Diatas merupakan salahsatu contoh dari banyaknya kasus penggunaan konsep Hypnosis / Hypnotist salah yang berakibat menjadi kepercayaan (bellieve) dalam masyarakat, seakan-akan Hypnotist sangat menyeramkan. Dari berbagai sumber yang telah kami pelajari dan dari menangani puluhan klien dengan kasus serupa, sebenarnya modus melalui telp adalah murni penipuan. Pelaku sebelumnya telah memiliki beberapa data mengenai calon korbannya. Bagaimana perasaan anda jika mendapat kabar melaui telepon bahwa saudara anda mengalami kecelakaan (bisa anak, istri, suami, atau saudara lain)? Tentu sebagai orang awam pasti sempat kaget. Disaat kaget inilah Critical Area kita menjadi lemah dan kita terbawa oleh perasaan / emosi yang mendalam, sehingga pikiran logis pun tidak sempat mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Suatu contoh: telepon berdering, setelah di angkat ternyata kabar bahwa satu anggota keluarga anda mengalami kecelakaan dan di rawat di IGD salahsatu RS setempat. Saat ini korban memerlukan operasi sesegera mungkin untuk menyelamatkan nyawanya dan meminta transfer uang untuk proses tersebut. Berikut salahsatu dialognya:
Pelaku             : “Selamat Sore, apa benar ini rumah bapak Suryo?”
Calon Korban  : “Iya benar, Saya sendiri. Ada keperluan apa ya?”
Pelaku             : “Maaf bapak, kami petugas RS X mau memberi kabar bahwa kerabat bapak
mengalami kecelakaan saat pulang sekolah dan sekarang masuk IGD dan membutuhkan dana 25 Juta rupiah untuk operasi agar nyawanya terselamatkan. Untuk menghemat waktu bapak dapat mentransfer  uang ke rekening ini”.
Calon Korban  : “Apa? Namun saya tidak ada uang sebanyak itu”
Pelaku             : “Bapak mempunyai uang berapa?”
Calon Korban  : “Ini masih ada 5 juta”
Pelaku             : “Iya sudah bapak kirimkan uang sebesar 5 Juta terlebih dahulu, pelunasannya
menyusul”.
(bagi pelaku yang sudah mengenal calon korban, dia akan menyebutkan nama orang yang kecelakaan beserta hubungannya dengan calon korban, misalnya anak bapak yang bernama Alfi)

Dalam kasus ini sebagai calon korban penipuan harus sangat berhati-hati karena pelaku memanfaatkan dan mempermainkan emosi anda. Pelaku biasanya menggunakan tempat umum atau tempat yang menggambarkan kondisi yang sesuai dengan skenarionya. Pelaku juga menggunakan pola bahasa yang sopan, permissive, dan meyakinkan sehingga calon korban mudah percaya. Ketika anda lengah maka disitulah pelaku dapat beraksi dengan leluasa. Kuncinya anda harus terus realistik dan rasional, jangan mengikuti alur ceritanya, jika anda menjumpai informasi yang janggal. Biasanya pelaku ini sudah mengamati calon korbannya, dengan memperkirakan korban sedang tidur siang atau malam sekitar antara Pk. 13.00 – 16.00, maupun pk. 01.00 – 04.00. Mengapa? Hal ini berkaitan dengan melemahnya kesadaran seseorang jika bangun secara mendadak. Perlu pembaca ketahui bersama, bahwa otak memiliki 4 gelombang otak yaitu, (1) gelombang Beta (saat kita sadar 100% dan melakukan kegiatan sehari-hari); (2) gelombang Alpha (saat seseorang relaks, santai, kondisi meditatif, khusuk, antara sebelum tidur dan sesaat setelah bangun tidur); (3) Theta (tidur lelap dengan mimpi); dan (4) Delta (saat tertidur pulas tanpa mimpi).

Dari penjelasan gelombang otak diatas, saat manusia tertidur gelombang otak berada di Theta ataupun Delta. Saat seseorang bangun seper menit selanjutnya ataupun bangun mendadak karena sesuatu (ada telepon). Maka gelombang otak manusia belum sadar 100% (belum ke Beta), ia baru naik ke gelombang otak Alpha. Gelombang otak Alpha inilah gerbang pikiran bawah sadar (biasanya digunakan seorang Hypnotherapist untuk melakukan terapi). Pada gelombang alpha inilah, logika sangat melemah sehingga menjadi kurang fokus. Dapat anda bayangkan sendiri saat anda bangun tidur lalu mengangkat telepon mendapat kabar bahwa anak / suami / istri anda kecelakaan? Tanpa pikiran logis, anda mungkin nyaris menuruti apa yang diminta pelaku.

Berikut tips untuk mengatasi modus penipuan kejahatan ini:
  1. Jangan terkesan gugup, takut, ataupun cemas saat menghadapi siapapun penelepon anda. Bersikaplah wajar dan biasa, dan anda tahu kalau ini salahsatu modus penipuan;
  2. Jangan heran jika pelaku mengetahui nama dan nomor telepon anda, karena itu sangat mudah dilakukan oleh mereka yang tahu caranya;
  3. Tanyakan balik dengan yakin beberapa hal kepada pelaku tentang korban kecelakaan, tanpa memperlihatkan jika anda cemas dan kawatir, misalkan: (a) Nama dan pakaian yang digunakan; (b) Ciri fisik atau kendaraan yang dibawanya; (c) Pelaku mengetahui nomor anda darimana?. Apabila anda menanyakan dengan penuh ketegasan, pelaku pasti terlihat gugup saat menjawab, dan apabila ini terjadi bisa dipastikan penipuan. Segera tutup telepon, dan segera hubungi korban yang disebutkan orang tadi. Namun bila pelaku dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan anda dengan benar, anda jangan langsung percaya karena bisa saja pelaku sudah mempersiapkan data-data mengenai anda.
  4. Jangan ikuti jika pelaku memint informasi mengenai nomor rekening anda;
  5. Tanyakan nama dan alamat rumah sakit pada pelaku;
  6. Setelah telepon ditutup,  jangan panik dan silakan cari informasi mengenai rumah sakit yang disebutkan tadi. Jangan menelepon nomor yang diberikan pelaku jika ia memberikan nomor rumah sakit pada anda, bisa saja itu adalah salahsatu trik dari pelaku.

Akhirnya dari paparan diatas, jelas sudah bahwa peristiwa hipnotis melalui telp adalah murni penipuan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Mereka hanya menggunakan waktu yang tepat dan mengorek segala informasi mengenai anda agar misi nya tercapai. Semoga kita semua terhindar dari berbagai macam penipuan dan lebih bersikap waspada tehadap orang yang baru dikenal, baik secara langsung maupun melalui dunia maya. Pada tulisan selanjutnya, akan saya ulas mengenai berbagai macam penipuan lainnya yang sering ditafsirkan sebagai kejahatan Hypnosis / hipnotis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar